SERI EKO-SUFISME # 28: MEDSOS, DOA & KEKASIH ALLAH


Suwito NS

Di jaman global begini, media sosial (medsos) menjadi alat yang efektif dan ampuh bagi orang yang mau memanfaatkannya. Mulai dari perorangan (pribadi) sampai lembaga atau organisasi. Perorangan misalnya seorang dosen, mahasiswa, pegadang, politikus, pekerja pabrik, tukang, dan lainnya. Demikian juga secara kelembagaan seperti kampus, sekolah, takmir masjid, atau lembaga lainnya. Satu set informasi, status, cuitan, atau lainnya dapat tersebar dengan sekali klik di tombol gawai (gadget atau smartphone) dan pada fitur sebuah medsos.

Dalam penggunaannya, secara pribadi saya terkadang mengirim ucapan atau doa melalui medsos, seperti doa atau ucapan ulang tahun, pernikahan, wisuda, hingga ucapan belasungkawa atau lelayu. Seringkali saya juga dikirimi ucapan atau doa dari teman atau kolega saya.

Sebuah contoh doa yang dikirim oleh seorang guru saya melalui SMS atau WA, “Bismillahirrahmanirrahim, semoga mas Wito dan seluruh keluarga mendapat limpahan kasih sayang Allah, slamet dunia akhirat, sehat wal afiyat, rizki yang berkah melimpah, keluarga sakinah mawaddah warahmah, putra-putri shalih shalihah, istiqamah ngibadah, diijabah doa-doanya, manfaat dunia akhirat”….

Doa yang luar biasa itu terkirim dari guru madrasah saya yang jauh nan di sana (kampung halaman). Namun, anehnya saya sering membalasnya dengan hanya membalas dengan kata, “Amin999x”. Jawaban yang pendek. Kadang saya tambahkan, “Amin999x ya mujibassailin”. Atau saya copy paste doa yang sama dan saya kirim ulang. Itulah umumnya orang, termasuk saya. Atau karena dengan dalih kesibukan, saya copy paste doa tersebut saya kirim ulang. Atau mengopy doa orang lain, lalu saya kirim. Alangkah kikirnya saya itu…

Pelajarannya yang dapat kita petik adalah jika kita mengirim doa atau ucapan pada orang lain, maka seringkali orang tersebut akan membalas mendoakan kita itu. Walaupun memang kadang-kadang balasan doa tersebut minimalis. Itu sudah sangat bagus.

Shalawat adalah doa. Shalawat adalah doa yang kita panjatkan kepada Allah untuk Rasulullah. Doa yang kita panjatkan pada Allah untuk Rasulullah pada hahikatnya tidak hanya untuk Rasulullah tapi juga untuk kita sendiri sebaga pembacanya. Shalawat tersebut akan “memantul kembali” kepada pembacanya. Pantulan yang berlipat ganda. Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat dengan kebaikan yang sama. “Man shalla alayya marratan, shallallahu ‘asyran” (Barang siapa bershalawat padaku sekali, maka Allah akan bershawalat untuknya 10 kali).

Inilah wujud kedermawanan Allah dan Rasulullah. Mengirim doa sekali akan dibalas doa denga 10 x (sepuluh kali). Satu SMS doa dibalas dengan 10 x SMS doa. Berbeda dengan kebanyakan dari kita (semoga Anda tidak termasuk) yang malas membalas doa-doa orang lain. Satu doa dari orang lain kita balas 1/10 (sepersepuluh).

Ada doa unik yang tidak pernah mengharap balasan doa dari orang yang dia doakan, doa itu seperti ini, “Ya Allah mudahkan seluruh urusanku, urusan-urusan istriku, urusan anak-anakku, orang tuaku, guru-guruku, murid-muridku, dan muslimin-muslimat semuanya dan mudahkanlah urusan-urusannya orang-orang yang ketemu aku, baik dia melihatku atau tidak, atau aku lihat atau tidak. Ampuni dosa-dosanya, sejahterakan mereka, selamatkan mereka, beri petunjuk mereka…” dan seterusnya…

Memang, orang yang tercerahkan itu tidak tamak (tidak banyak berharap pada makhluk karena nafsunya), termasuk tidak mengharap balasan amal baiknya dari selain Allah. Namun, kebaikan-kebaikan itu justru mereka sembunyikan. Orang-orang yang didoakannya seringkali tidak mengetahui kalau dia selalu didoakan. Pelajaran penting yang kita petik dari peristiwa ini adalah bahwa dalam kehidupan ini, prasangka positif harus kita kedepankan. Tampilannya luarnya mungkin buruk, ndeso, seperti tidak berpendidikan, namun hatinya penuh dengan doa dan kebaikan.

Dia itulah kekasih Allah, yang sering tidak mendapat simpatik para makhluk. Karena simpatik dari makhluk justru akan menjadi hijab (penghalang). Karena sikap simpati sesesorang akan melahirkan pujian yang rentang menimbulkan kesombongan, penyakit hati yang akut.

Purwokerto, 18 Mei 2017

LPM Purwokerto

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 1,757 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *