SERI EKO-SUFISME # 37: MANUSIA CAHAYA 2


Suwito NS

Coba kita merenung sejenak. Bayangkan, kita punya sebidang tanah pekarangan di samping rumah. Pekarangan (kebun) itu memang tidak luas, tapi cukup untuk ditamani pohon pisang. Pisang Raja. Kita menanaminya sendiri. Dengan tangan kita sendiri. Pohon tersebut tumbuh besar, sehat, dan akhirnya berbuah dan sekarang buah pisang tersebut sudah tua. Pertanyaanya, beranikah kita menebang pohon pisang itu ? Jawabannya, pasti berani. Alasannya, karena pohon itu tanaman kita dan di tanah pekarangan kita sendiri.

Namun, di seberang pekarangan kita, ada pohon pisang yang sama, Pisang Raja, buahnya sudah tua, tetapi di pekarangan tetangga. Beranikah kita menebangnya ? Saat saya tanyakan pada ibu-ibu jamaah pengajian di RT saya, mereka tidak berani menebangnya. Alasanya, pohon tersebut bukan miliknya. Pisang itu milik orang lain. Sebelum dapat ijin, pisang tersebut tidak halal baginya. Menebangnya tanpa ijin pemiliknya adalah sebuah kesalahan. Anda setuju ?

Dari renungan di atas, secara tidak langsung kita bicara tentang cahaya. Ibu-ibu jamaah pengajian di RT saya itu ternyata di hatinya terdapat cahaya yang menerangi hati sanubarinya. Mereka tidak kalap. Artinya, hati mereka terang dan dapat mengenali (mengidentifikasi) secara jelas antara keburukan-kebenaran, hak-batil, dosa-pahala, neraka-surga, milik orang-milik sendiri, haram-halal, dan bahkan dapat mengidentifikasi hal-hal yang menurut orang lain tidak/belum jelas statusnya (syubhat).

Seseorang yang dalam hatinya disinari cahaya, penglihatannya spiritualnya (bashirah) semakin jelas dan tajam. Dia akan berusaha menghindari hal-hal yang syubhat sekalipun, apalagi yang jelas-jelas tidak diperbolehkan (haram). Dia akan selektif (wara’) dalam memilih sesuatu yang akan digunakan atau dikonsumsi.

Hati yang disinari cahaya tersebut akan aktif berfungsi sebagai radar pendeteksi. Hati tersebut aktif mendetekti objek-objek yang layak (ma’ruf) dan tidak layak (munkar). Dengan penglihatan dan deteksi yang jelas, keputusan yang diambil akan benar dan selaras kebenaran ilahiyah. Sebaliknya, hati yang gelap ibarat radar tidak bisa mengidentifikasi objek secara jelas. Inilah yang sering disebut dengan kalap (Jawa).

Di jaman yang serba material begini, banyak orang yang kalap. Dia tidak bisa lagi mengenali yang haram sekalipun. Tanpa penerangan, hati seseorang akan tidak mengenali pakah ini pohon pisangnya atau tidak, ini istrinya atau tidak, ini pasangannya-sahnya atau tidak, uangnya atau tidak, bahkan ada tidak bisa mengenali ini laki-laki atau perempuan.

Karena kalap (tidak ada cahaya hati), seseorang tidak dapat mengenali status dirinya, sebagai hamba atau sebagai tuhan. Dia tidak tahu. Kalau sudah begitu, yang terjadi adalah kedzaliman baik skala kecil atau besar, seperti pencurian dalam berbagai bentuk seperti pengurangan timbangan, penjambretan, perampokan, penggelapan milik orang, korupsi, perselingkuhan, pencurian, prilaku homosexual, dan kedzaliman lainnya, termasuk syirik.

Doa yang diajarkan Rasulullah saat kita melangkahkan kaki ke masjid, “Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di samping kanan-kiriku, cahaya di depan dan belakangku, cahaya di atas dan di bawahku, perbesarlah cahaya itu wahai Tuhanku…”

Doa tersebut adalah permohonan menjadi “manusia cahaya”. Cahaya yang melekat pada orang tersebut dapat menerangi objek segelap apapun menjadi terang dan jelas. Apapun aktivitas dan kemanapun aktivitas akan selalu dibimbing Allah SWT dan Rasulullah SAW, karena Rasulullah adalah Cahaya, sedangkan Allah adalah realitas Cahaya di Atas Cahaya.

Allah A’lam bi al-Shawab

Kebumen, Kereta Krakatau, 09-06-2017: 14:48

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 10,554 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 37: MANUSIA CAHAYA

  • F Adhim

    Luar biasa Ustadz.
    Saya menangkap “cahaya” dalan tulisan ini sebagai analogi dari “ilmu/pengetahuan”. Dengan ilmu kita bisa membedakan mana baik-buruk, benar-salah, dan khak-batil. Ilmu sebagai cahaya adalah ilmu yang dihasilkan dari proses pendidikan yang tidak hanya mementingkan aspek kognitif saja, tapi juga memperhatikan (terserap) dalam aspek afektif, dan teraplikasikan keranah psikomotorik. Manusia cahaya adalah manusia yang dapat menjalankan Ilmu, iman dan amal secara seimbang dan simultan.
    Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana pohon pisang yang berada di kebun miliknya dan bukan, yang kemudian berlanjut pada keyakinan (iman) bahwa tindakan (amal) memetik buah pisang matang yang berada di kebun miliknya adalah boleh.

    Salam ta’zim Ustafz & terimakasih sudah diingatkan dengan tulisan² njenengan.
    Wassalam.