SERI EKO-SUFISME # 24: TRAVELING


Suwito NS

Salah satu nikmat Allah yang seringkali tidak terpikirkan oleh kita adalah Allah memberikan kemampuan pada kita berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Allah menjalankan dari Purwokerto ke Kudus misalnya.

Ketika membahas tentang perjalanan, ada hal penting yang bisa kita ambil pelajarannya. Di sinilah Allah menunjukkan kebesaran dan keagunganNya, sehingga orang yang bersyukur akan terucap doa shuhannalladzi sakhkhara lana hadza ….

Pertama saat melakukan perjalanan, baik yang sangat sederhana, alias menggunakan perjalanan kaki, Allah menunjukkan pada kita bahwa otot, organ-organ yang terkait dengan perjalanan masih berfungsi.

Perjalanan melibatkan persendian kaki, ayunan langkah, pandangan mata, atau taktil rabaan yang peka bagi tuna netra. Seandainya sendi-sendi kita terdapat gangguan mungkin keseleo atau sakit yang lain, perjalanan tidak akan pernah terwujud. Kita bisa membayangkan jika seseorang tiba-tiba lumpuh, maka perjalanan tidak akan terjadi atau terhambat.

Kedua, jika perjalanan menggunakan kendaraan bis misalnya. Allah memberikan kekuatan kepada kita melalui perantara alat atau sarana yang kita tumpangi. Padahal sebetulnya keadaan manusia dalam hal ini sangat-sangat rapuh. Andaikan, satu onderdil yang sangat penting dari alat transportasi tersebut disfungsi, maka yang terjadi adalah malapetaka. Belum lagi ketika kita berbicara alat transportasi udara dan laut yang memiliki resiko yang lebih dibanding resiko perjalanan darat.

Ketiga, pelajaran di tempat yang berbeda, ilmu baru. Di sepanjang  perjalanan dan tempat baru yang  kita singgahi atau kita tuju, kita bisa menyaksikan tradisi, cara, adat istiadat yang dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran manusia. Oleh karena itu, Allah meminta hambaNya untuk melakukan perjalanan agar dapat belajar dari orang-orang terdahulu dari masyarakat yang dikunjungi baik yang produktif maupun tidak.

Pembahasan di atas, membicarakan bentuk perjalanan fisik. Pada hakikatnya, manusia sedang berjalan menuju satu titik. Hanya saja perjalanan di dunia ini terasa tidak jalan. Kesadaran akan melakukan perjalanan ini merupakan anugerah yang luar biasa.  Titik yang kita tuju adalah Allah. Wa ila rabbina lamunqalibun (kepada Tuhan kitalah kita kembali). Lebih beruntung lagi saat pejalan ini mampu memahami makna perjalanannya. Mampu memahami hal-hal yang harus dilakukan terkait dengan perjalanannya, yakni terkait dengan cara agar perjalanannya selamat. Mampu memahami hukum dan etika berjalan. Memahami rambu-rambu dalam menempuh perjalanan.

Seringkali makna perjalanan baik secara fisik dan spiritual dirusak oleh pelakunya sendiri dengan tidak menyadari bahwa perjalanan yang dilakukan akan mendatangkan kecacatan.

Allah A’lam bi al-Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 4,617 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *