SERI EKO-SUFISME # 19: UNDANGAN BUPATI 12


Suwito NS

Di kelas, saya ajak mahasiswa untuk merenung dan berimajinasi sejenak. Mereka saya minta berfikir, bahwa semua yang ada di kelas tersebut adalah orang-orang baik dan hebat. Datang tepat waktu, tingkat kehadiran kuliah telah mencukupi, yakni 75 % dari seluruh jumlah kehadiran. Karena menjadi mahasiswa yang baik dan hebat, maka mereka akan mendapat penghargaan dari Bupati mereka masing-masing. Karena mereka telah mengharumkan nama kabupatennya. Mereka yang berasal dari A, mereka mendapat undangan di Pendopo Kabupaten A. Mereka yang berasal dari Kabupaten B mendapat undangan dari bupatinya di pendopo kabupaten B. Demikian juga C.

Dalam undangan itu tertera, hari, tanggal, jam. Misal: Senin (minggu depan), jam 09.00. bertempat di pendopo kabupaten masing-masing, sesuai daerah asal. Setiap peserta undangan yang hadir akan mendapat penghargaan uang sebesar Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah), sebuah laptop, dan uang transport. Masih ada lagi door prize bagi yang beruntung akan mendapatkan satu voucher umrah gratis bersama bupati. Namun, ingat, dalam surat tersebut di bagian akhir ada catatan penting NB, yang bunyinya, “Seluruh item penghargaan tidak akan diberikan kepada yang tidak hadir”.

Selanjutnya saya bertanya kepada di antara mereka. “Jam berapa kalian akan datang ke pendopo memenuhi undangan Bapak Bupati ?”, Mereka sigap menjawab, “Jam 8 saya sudah di tempat, Pak”. Bahkan, mereka ada yang menjawab, “Saya akan datang lebih gasik (pagi)”. Pertanyaan saya berikutnya, “Baju yang mana yang akan Anda pakai ?”, Di antara mereka menjawab, “Saya akan memakai baju yang paling bagus yang saya punya”. Ada juga yang menjawab, “Saya akan beli baju dulu untuk penerimaan penghargaan itu”. Imajinasi. Sebuah imajinasi. Ini imajinasi yang bukan sekedar imajimasi. Jawaban-jawaban tersebut mencerminkan keadaan jiwa (hal al-nasf) yang benar-benar seperti keadaannya.

Keadaan di atas juga sama dengan kita. kita juga akan segera bergegas, cepat-cepat untuk datang. Kita juga khawatir kalau bagian kita hangus gara-gara saya absen. Kita sangat resah bahkan takut sekali kalau saya tidak dapat bagian.

Pancingan materi mengundang kenginan kita untuk segera datang. Coba bandingkan, saat ada undangan Allah dan Rasulullah berupa adzan. Hati dan jiwa kita masih belum bisa secepat itu responnya seperti contoh di atas. Padahal kalau dibandingkan rewardNya sangat jauh berbeda. Kalau undangan Bapak Bupati tadi disertai dengan uang 50 juta, laptop, (dan voucher umrah bagi yang beruntung), Undangan Allah disertai jaminan falah (kemenangan) bagi yang yakin (iman) dan yang bergegas melaksanaknnya. Namun undangan yang justru nilai tidak terhingga ini seringkali kita cuekin. Kita tunda-tunda. Kita justru asyik memainkan hp kita, asyik menjalin hubungan dengan teman kita (baik dengan medsos atau lainnya), sibuk bekerja, yang secara riil semua itu tidak bisa membantu mengatasi keseluruhan masalah kita.

Hayy al-shalah, hayy al-falah… (ayo shalat, ayo dapat keberuntungan). Undangan, ini undangan keberuntungan. Undangan yang sering kita sepelekan. Atau bahkan kita sering jawab, “Baru adzan”.

Padahal, sebenarnya di antara makna falah adalah kemenangan dan keberuntungan dari berbagai aspeknya. Tidak hanya ekonomi. Tapi juga keberuntungan sosial (silaturrahim), spiritual (doa yang mustajabah), keluarga (kehidupan tentram, sakinah (tenang, tidak dipenuhi konflik), mawaddah (saling menyintai satu sama lain), wa rahmah (saling mengasihi), juga anak-anak shalih dan shalihah. Mendapat perlindungan Allah dari hal-hal yang merusak kualitas jiwa raga kita. Ini Nikmat tidak ada bandingannya dengan uang dengan nominal berapapun, atau laptop tercanggih manapun. Kita akan diberi ini semua, kalau kita mau. Sayangnya, kita masih belum begitu yakin (iman) dengan falah (keberuntungan) ini.

Kalau bashirah (mata hati) sedikit terbuka, paling tidak kita akan bergegas seperti saat ada undangan bapak bupati ini, bahkan lebih cepat lagi. Tampiran ceria, senang, dan penuh harap hadir dalam hati kita. Tampak dalam wajah kita. Kita datang dengan keadaan terbaik kita. Baju bagus bahkan yang terbaik yang kita punya. Bukan sebaliknya, kita tidak menunda-nunda datang, dengan sisa-sisa melek yang tampak jelas di wajah kita karena lebih asyik dengan tayangan sinetron yang bersamaan dengan shalat Isya’. Semoga tulisan pendek ini dapat menggugah hati penulis dan pembaca yang lain, amin 999.

Allah A’lam bi al-Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 3,262 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 19: UNDANGAN BUPATI