SERI EKO-SUFISME # 13: BELAJAR ARIF DARI DAPUR 2


Suwito NS

 

Di dapur, atau di meja makan, sering kita lihat pemandangan yang khas. Benda-benda penting untuk alat makan makan seperti piring, sendok, garpu, gelas, cangkir biasanya terpajang di sana dan selalu ada. Dari keluarga yang paling sederhana hingga elit. Lap tangan (sapu tangan) atau tisu biasa tersedia juga di sana. Di keluarga-keluarga yang mampu mereka memiliki alat-alat yang canggih. Semua itu untuk kemudahan kita.

Piring diciptakan untuk memudahkan kita makan. Sebelum ada piring, manusia menggunakan wadah makan seadanya, seperti daun lempengan batu tipis atau semacamnya. Intinya, piring menjadikan mudah kita. Demikian juga gelas, sendok, garpu, tisu, kesed (kosek kaki) dan bahkan kloset WC kita sekalipun. Mereka mempunyai fungsi dan manfaat untuk memudahkan kehidupan manusia. Mereka memiliki fitrah masing-masing sesuai “tupoksinya”. Semua tercipta dan punya manfaat yang baik bagi kehidupan ini.

Coba kita lihat, misalnya tisu. Dia memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai pengelap (Jawa: lap). Menyapu kotoran. Tugasnya memang di bagian-bagian yang kotor. Tangan kita yang kotor bekas terkena minyak masakan Padang, kecap bumbu bakso atau sate dan lain-lain semua terbantu oleh tisu. Bibir dan pipi kotor karena habis makan durian terbantu dengan selembar atau dua lembar tisu. Walaupun, setelah selesai melaksanakan tugasnya tisu tersebut di buang di tempat sampah dan penggunanya tidak pernah berterima kasih padanya. Tisu ditakdirkan oleh Allah melayani manusia dengan tugas pembersihan segala macam yang kotor pada diri manusia.

Demikian juga kesed (kosek kaki). Saat hujan, jalanan becek, kaki dan sepatu terkena lumpur. Dialah tugas utamanya membantu membersihkan ini semua. Keramik yang putih bersih selamat dari kotoran lumpur yang tersisa di kaki kita walau sudah dibasuh air. Tupoksinya adalah membantu manusia menjadi hidup dengan mudah. Walaupun sesederhana apapun seperti gombal bekas atau kertas (karton) bekas sampai yang modern model kosek kaki elektrik sangat diperlukan kita. Memang tugasnya di “area” kotor seperti itu.

Satu lagi yang perlu kita lihat. Setelah makan menggunakan piring, sendok dan garpu, dan setelah kita lap tangan, bibir, dan pipi kita dengan tisu, tiba-tiba perut sakit ingin ke belakang (WC). Mendadak kebelet buang air besar. Pasti yang kita lakukan adalah segera ke toilet atau WC kita yang ada alat klosetnya. Namun, ternyata WC satu-satunya yang ada di rumah tersebut baru dipakai oleh salah anak kita. Pastilah kita mengetok pintu WC agar segera dia keluar dan gantian memakai. Luar biasa fungsi dan manfaat bagi kehidupan kita. Setelah menunaikan hajat, jarang sekali kita berterimaka kasih padanya. Ya.. kan ? Intinya, seluruh yang ada semua memiliki manfaat yang luar biasa.

Ini semua tercipta untuk melayani kehidupan manusia agar mereka dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai khalifah (pemimpin sekaligus wakil Allah) di bumi secara maksimal. Manusia ditakdirkan dapat mencapai kesempurnaan dekat sedekat-dekatnya dengan Allah melalui usaha dan pemanfaatan potensi yang telah diberikan Allah.

Rujukan qur’anik yang sangat terkenal terkait dengan ini adalah QS. Al-Thin ayat 5.

Laqad khalaqna al-insana fi ahsan al-taqwim (Artinya: Sungguh kami telah ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk). Namun, Allah juga menjelaskan dia akan tergelincir pada derajat yang sangat bawah (hina), saking hinanya bahkan melebihi hewan (bal hum adhal).

Manusia sebagai makhluk yang dilayani alam semesta (hewan, tumbuhan, benda-benda termasuk gelas, piring, sendok, garpu, tisu, kesed, toilet, roda, ban, dan seterusnya) mestilah makhluk yang hebat dibanding pelayannya. Majikan lebih “mulia” dibanding pelayan-pelayannya, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Hanya saja tidak demikian kenyataanya. Banyak antara kita yang masih menyusahkan orang lain. Dengan sengaja atau tidak masih banyak manusia yang menyakiti orang lain. Fenomena terbaru, perampokan yang terjadi di Pulomas dengan 5 korban tewas karena disekap dalam sebuah kamar mandi yang sempit bersama 11 orang korban lainnya. Kekerasan mental dan fisik lainnya seperti kasus pemerkosaan, pemalakan, penjampretan, tawuran pelajar, narkoba, kekerasan persaingan “politik” baik lokal maupun internasional dan lain-lain.

Akhir-akhir ini, kasus bullying antar anak di sekolah. Juga, di media sosial banyak kasus bullying antar kelompok yang tidak bersependapat. Sesama muslim saling membully. Saling melemahkan dengan fitnah. Sebagian kita mempraktikkan agama bercampur nafsu dengan penyebaran fitnah dan kabar tidak benar (hoax). Banyak komentar di meda sosial dengan marah-marah dan emosi dan seterusnya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab turunnya derajat manusia.

Kalau ini masih ada pada kita berarti kualitas kita lebih buruk dibanding piring, sendok, garpu, gelas, tisu, kesed (kosek kaki), kloset WC, roda, ban, dan benda-benda lain di sekitar kita. Mereka lebih baik dibanding kita, karena mereka jelas manfaatnya. Sementara perilaku buruk kita menjadikan orang lain sengsara dan terpuruk dalam kesedihan.

Padahal, harusnya kita menjadi yang lebih baik di antara mereka. Mereka (benda-benda itu) akan sangat gembira dapat nimbrung dalam kegiatan baik kita. Karena kita adalah khalifah, the real khalifah. Sebaliknya, benda-benda itu akan menolak kalau diberi kemampuan itu kalau hanya digunakan untuk alat maksiat. Derajat mereka akan ikut terangkat karena kita. Bukan malah sebaliknya…

Allah A’lam bi Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 2,328 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 13: BELAJAR ARIF DARI DAPUR

  • Sabar Munanto

    Kalau direnungkan, bahkan kekerungan di satu sisi merupakan kecukupan di sisi lain.

    Piring bersih yg lama tdk terpakai kadang berkurang kebersihannya, baru setelah kotoran, secara otomatis dapat kembali bersih sperti sediakala.

    Maka, sistem Allah akan srnantiasa begitu. Suatu anugerah bagi kita yang menyadari dan berusaha menggapai sisi positifnya. Wallaha’lam…