SERI EKO-SUFISME # 32: JAM AGAMA DI SEKOLAH 4


Suwito NS

Sebagai orang tua, saya seringkali berharap banyak dengan sekolah. Anak yang kita sekolahkan, harapannya bisa berprestasi baik pada materi agama maupun materi umum. Wah…memang pola pikir saya masih dikhotomik ya…

Dalam hal prestasi pada materi agama misalnya, mahir membaca, bahkan hafal al-Quran, paham dan “gesit” dalam mengamalkan ibadah, perilakunya santun, peka terhadap masalah-masalah sosial, dan lain-lain. Sedangkan materi umum meliputi pandai dan berprestasi dalam pelajaran seperti matematika, sain, bahasa, dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

Intinya, tuntutan kita pada sekolah itu banyak sekali. Namun, coba kita lihat kemampuan sekolah dalam melayani anak kita. Dilihat dari segi waktu, bagi sekolah pada umumnya, waktu efektif sekolah adalah jam 07.00 – 13.30. Itu saja masih kepotong istirahat 30 menit, yakni dua kali lima belas menit (2 x 15 menit).

Coba kita lihat dan hitung waktu untuk pelajaran materi agama yang kita sering sebut dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah. Dalam kurikulum PAI memuat materi yakni, 1) al-Quran Hadits, 2) Aqidah Akhlak, 3) Fiqh, 4) Sejarah Kebudayaan Islam.

Di sekolah, materi agama (PAI) umumnya dialokasikan waktu setiap minggu 2 jam pelajaran. Satu jam pelajaran di sekolah adalah 45 menit. Artinya, satu minggu belajar agama secara formal di sekolah hanya 90 menit. Ini berarti, sebulan hanya 6 jam (hitungannya 90 menit x 4 minggu = 360 menit [6 jam/bulan]).

Kalau satu semester ada 5 bulan, hitungannya berarti 6 jam x 5 bulan = 35 jam. Untuk setahun, ketemu angka 70 jam. Kalau dihitung hari berarti, belajar agama secara formal di sekolah ternyata hanya 2,92 hari setahun. Kalau setahun 2,92 hari, maka hitungan selama SD, SMP, dan SMA, belajar agama (PAI) hanya 35,04 hari. Kita lihat rinciannya:

 

JENJANG RINCIAN WAKTU JUMLAH HARI % HARI
SD 2190 hari atau 6 tahun x 2.92 hari/setahun = 17.52 hari 0.01
SMP 1095 hari atau 3 tahun x 2.92 hari/setahun = 8.76 hari 0.80
SMA 1095 hari atau 3 tahun x 2.92 hari/setahun = 8.76 hari 0.80
TOTAL 4380 Hari atau 12 Tahun X 8.76 Hari/setahun = 35.04 hari 1.608

Dari data hitungan angka-angka ini, ternyata belajar agama (PAI) di SD hanya 17,52 hari. Sementara di SMP dan di SMA hanya 8,76 hari. Solusi yang perlu dilakukan segera adalah memadukan pembelajaran agama dengan mata pelajaran lain.

Kalau itu dilakukan, tantangannya adalah merekonstruksi kurikulum dan memastikan bahwa implementasinya harus dilaksanakan secara benar dan konsisten. Guru dituntut untuk mengintegrasikan pembelajaran apapun dengan ajaran pendidikan agama. Jika tidak berarti hanya sekuku hitam saja belajar agama di sekolah.

Dari kenyataan itu, orang tua dituntut memberikan pendidikan agama di rumah secara mandiri. Atau mengombinasikan (mengintegrasikan) pendidikan formal dengan non formal (pesantren) atau dengan memberikan pendidikan tambahan di sore hari, baik melalui Madrasah Diniyah atau Taman Pendidikan al-Quran, atau pendidikan masyarakat melalui masjid atau mushalla yang dipandu kyai atau ustadz.

Atau dengan solusi lain memasukkan anak ke pesantren (boarding) yang full-day dan full-night (program penuh sehari dan semalam) melayani santri dari berbagai aspek dari peserta didik. Ayo…mondok.

GS Purwokerto, 22 Mei 2017.

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 5,194 times

Leave a Reply to mrsuwitons Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 32: JAM AGAMA DI SEKOLAH

  • Abdul qodir akhwandi

    Itulah perlunya pendidikan agama dilingkungan keluarga nggh pak wito bersyukurlah bagi orang tua yang mampu mengajarkan pendidikan agama pd anaknya..dengan keilmuan yang dimilikinya. namun kesibukan orang tuanyalah kadang yang menjadikan ilmunya kurang dimanfaatkan untuk membentuk akhlak untuk buah hatinya

  • sabar munanto

    Agar peserta didik lebih menghayati ajaran agama, maka selain shalat rawatib perlu ada tugas mandiri perorangan seperti menengok orang sakit dll. Disinyalir perilaku sosial yg dilakukan secara berjamaah kurang mendidik pada sentuhan subtantif? Meskipun juga tidak meremehkan perilalu sosial secara berjamaah.