SERI EKO-SUFISME # 30: KORBAN ORANG DEWASA


Suwito NS

Sebuah spanduk menarik teRpampang di jalan masuk kampus. Spanduk ini dibuat oleh mahasiswa dengan logo Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Purwokerto beberapa waktu yang lalu. “Nilai A tanpa kejujuran is nothing !”, pesannya untuk kawan-kawan mereka yang sedang menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS). Spanduk ini berisi pesan moral gerakan anti menyontek.

Menyontek, tawuran, narkoba, pergaulan bebas, pornografi dan aksi, etos kerja rendah, rendahnya minat baca, prilaku merusak lingkungan, masalah sopan santun, dan seterusnya adalah sederet masalah bangsa yang harus segera dicarikan solusinya. Jika perilaku masyarakat sejak anak-anak dan remaja ini tidak segera ditanggulangi maka yang terjadi adalah rapuhnya kualitas bangsa ini.

Sungguh memprihatinkan. Keadaan anak-anak dan remaja saat ini. Memang, mereka sebenarnya menjadi korban orang dewasa. Prilaku anak-anak dan remaja kita menunjukkan sikap yang menjauh dari nilai-nilai kepribadian Indonesia kita, yakni Pancasila dan agama. Krisis akhlak dan moral menjadi tema yang serius dalam kehidupan masyarakat kita.

Semangat berpancasila dan beragama hilang dari masyarakat kita. Kita harus ngaji kembali tentang ajaran Pancasila dan agama kita masing-masing. Saya menerima Pancasila, karena nilai-nilainya tidak bertentangan Islam. Di samping ngaji Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, kita juga harus ngaji agama kita masing-masing. Yang beragama Islam silahkan mendalami Islam dan mengamalkannya dalam kerangka Indonesia, demikian juga yang lainnya.

Anak-anak dan remaja kita harus paham agama yang dipeluknya. Di samping diajak ngaji Pancasila. Anak-anak dan remaja kita harus didorong dengan kuat untuk ngaji kitab suci yang mereka peluk. Anak-anak dan remaja Islam harus dapat membaca kitab sucinya saat SD. Lulus SD, anak-anak Islam harus telah lancar dan benar membaca al-Quran.

Beberapa cara dapat digunakan untuk mendorong agar anak-anak Islam bebas B3B (Buta Huruf, Buta Aksara, Buta Angka). Anak-anak kita tidak boleh buta dengan nilai-nilai agamanya. Setiap hari harus diluangkan minimal satu jam untuk belajar al-Quran. Dipilih waktu yang paling tepat untuk kegiatan ini. Bagi orang tua yang tidak dapat mengajari anak-anaknya sendiri belajar membaca al-Quran, wajib mencarikan guru yang kompeten di bidang ini.

Jangan jatuh korban yang kedua kalinya. Artinya, bagi orang tua yang terlanjur merasa tidak dapat membaca al-Quran, jangan mengulangi kesalahan yang kedua pada anaknya. Kemudian, bagi orang tua yang telah benar-benar bisa membaca al-Quran jangan membiarkan anak terlena banyak bermain dan sibuk dengan urusan lain.

Anak-anak dan rema kita memiliki prilaku yang jauh dari nilai-nilai agama dan nilai-nilai kepribadian bangsa jelas karena salah kita. Mereka adalah korban orang dewasa. Mari kita sadari kekeliruan kita. Bisa jadi, kita merasa telah mendapatkan kesuksesan, namun teryata jatuh korban. Korbannya adalah anak dan generasi kita sendiri. Gerakan Ngaji menjadi penting. Ngaji Pancasila dan Ngaji Quran.

Gerakan mematikan TV saat jam ngaji menjadi sangat penting dalam rangka menyukseskan program ini. Sejumlah perda untuk melindungi anak-anak telah ditetapkan di beberapa kabupaten atau kota. Ayo kita dukung…

Allah A’lam bi al-Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 4,599 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *