SERI EKO-SUFISME # 26: NIKMAT GRAVITASI 2


NIKMAT GRAVITASI

 Suwito NS

Di pagi yang masih sejuk, saat para bapak dan juga ibu sedang sebuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Pikiran saya terbesit pada aktivitas lalu lalang kendaraan di Purwokerto. Banyak kendaraan roda dua. Banyak juga kendaraan roda empat. Ada juga orang tua yang menuntun anaknya yang masih sekolah dasar dengan berjalan kaki.

Jalan kaki. Sebuah nikmat yang jarang kita sadari. Padahal betapa mahalnya nikmat ini. Dari nikmat itu, kita dapat merasakan fungsi otot-otot yang masih baik, kulit, jaringan tubuh, sendi, penglihatan dan lain-lain dari fisik kita yang masih baik dan normal. Lagi pula, nikmat adanya lahan jalan, kemampuan berdiri, melangkah, ayunan tangan dan lain-lain hingga kita bisa jalan kaki. Lagi-lagi, kita juga sangat jarang, bahkan nyaris tidak berfikir tentang “tarikan” (gravitasi) bumi kita pada kaki kita. Jalan dengan menggunakan dua kaki.

Kemampuan manusia bisa berjalan tegak, menjadikan dia tidak gampang ambruk. Hebatnya lagi, sebagian kita bisa mengendarai sepeda atau sepeda motor dengan 2 roda dengan stabil. Karena saking trampilnya, ada pengendara yang jalan sambil ngempit (memegangi) anak balita di motor bagian depan, dan tangan satunya memegang gas motor, yang sebetulnya hal tersebut membahayakan diri dan orang lain.

Saya teringat dengan pelajaran gravitasi di sekolah menengah. Kita bisa berjalan, lari, dan naik kendaraan dengan stabil karena gravitasi yang diberikan Allah pada alam secara matematis berada pada ukuran (volume atau dosis) yang tepat. Seandainya, dosis gravitasi bumi dikurangi, manusia akan sempoyongan karena harus “melawan” terlalu ringannya bobot badannya sendiri. Akibatnya, orang normal akan sempoyongan. Apalagi mereka yang sakit atau mabuk. Nah, sekiranya dosis gravistasi semakin dikurangi lagi, maka yang terjadi adalah semakin melayang-layang. Manusia akan sulit mengendalikan dirinya sendiri. Demikian juga, air menjadi tidak jelas arah mengalirnya. Manusia dan hewan akan kesulitan minum dan makan. Sistem pencernaan akan kacau. Air dan makanan yang harusnya mengalir ke bawah dengan adanya tarikan gravitasi bumi menjadi tidak maksimal. Semua melayang-layang. Kopi yang kita minum akan melayang-layang di rongga mulut. Makanan yang harusnya diloah usus malah melayang-layang di lambung. Dan yang mungkin akan sangat menjijikkan adalah limbah (kotoran) manusia dan hewan akan melayang-layang, karena bumi sudah kehilangan daya serap (gravitasinya). Bumi tidak lagi mau menampung limbah-limbah itu. Subhanallah…

 Sebaliknya, jika gravitasi bumi ditambah dosisnya, yang terjadi adalah manusia dan hewan akan sulit berjalan karena tarikan bumi yang terlalu kuat. Air akan cepat meresap dan hilang bak dihisap bumi. Bak-bak penampungan air pecah karena semakin besar objek, maka semakin besar tarikan gravitasi bumi. Burung-burung akan terbang rendah atau bahkan mudah menabrak manusia. Sebagian bahkan tidak kuat lagi terbang karena beratnya tarikan gravitasi itu.

Inilah pelajaran penting dari gravitasi yang secara fisika telah menjadi bahan pembicaraan ilmuwan pada abad 18. Sayangnya, ilmu ini berhenti pada level fisik, hanya pada sain fisika. Seandainya ilmu ini dapat kita integrasikan pada aspek yang lebih dalam dari kehidupan manusia, alangkah dahsyatnya. Perenungan yang bisa kita pikirkan adalah mengapa alam ini (khususnya bumi tata surya lainnya) melayani manusia dengan ukuran yang tepat. Bumi memberikan servis dengan daya tarik yang volumenya (dosisnya) pas dan tepat. Suatu ukuran yang tidak terlalu berlebihan dan terlalu kekurangan.

Servis alam inilah yang harusnya mengantarkan pada kita menjadi cerdas secara intelektual dan spiritual. Secara intelektual, kita mampu mengembangkan setelan gravistasi ini untuk keperluan kemaslahan manusia. Sedangkan secara spiritual, akan mengantarkan kita menjadi lebih peka dengan layanan Allah yang dititipkan pada alam semesta yang setiap memberikan layanannya.

Servis (layanan) Allah akan melahirkan syukur yang mendalam. Semua ibadah (ketaatan) yang dilakukan manusia pada hakikatnya adalah wujud terima kasih pada Allah, Sang Pemberi Yang Terbaik (Khair al-Raziqin). PemberianNya pas. Tidak kurang, dan tidak lebih. Ungkapan terima kasih diwujudkan dengan bergegas saat diminta hadir melalui panggilan mulut seorang muadzin. Bergegas mendekat dengan panggilan alam fajar yang sebagian besar orang masih terlelap tidur. Shalat jamaah di awal waktu adalah wujud terima kasih yang mendalam kepada Allah. Dzat Pemberi gravitasi. Shalat malam atau rakaat tahajjut adalah ungkapan terima kasih yang mendalam. Sebuah contoh yang selalu dilakukan Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam, kekasih dan teladan setiap mukmin yang setia.

Allah A’lam bi al-Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 3,285 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 26: NIKMAT GRAVITASI

  • Sunhaji

    Subhanalloh itulah kehebatan Alloh yg jika kita renungkan betapa rendah nya manusia dihadapan Alloh. Betapa kecilnya manusia dihadapan Alloh. Manusia yg terbaik adalh berserahdiri pd ilahi robbi mensyukuri nikmat betapapun kecilnya dari Alloh SWT. Semoga kita mampu melksanakan tugas sebagai abdullah dannkholifatulloh. Luar biasa tulisan saudaraku ini mengingatkan kita akan ketidakberdayaaanya.