SERI EKO-SUFISME #21: BUKU KEMATIAN


Suwito NS

 

Menjelang siang, di hari ke 5 Januari yang lalu, sebuah kabar duka saya terima dari istri saya. Seorang kawan lama yang akrab telah dipanggil Allah menuju ke sisiNya. Dipanggil oleh Pemiliknya saat usia yang masih relatif sangat muda. Sejak 1995 yang lalu, kami tidak lagi bertemu. Walau hampir 22 tahun, namun wajah mudanya masih tetap terngiang dalam benak saya. Allah ampuni dosa-dosanya, sayangi dia, hapus kesalahan-kesalahannya, untaian doa ini saya sebar melalui SMS kepada kawan sejawat saya.

Di antara kawan-kawan itu kaget dan bertanya tentang penyebab kematiannya. Satu di antara mereka ada yang membalas SMS saya dengan untaian kata mutiara yang sangat indah.

Seorang kawan itu menuliskan…(entah dia mengutip dari mana tanpa disebutkan sumbernya)…

“Manusia seperti BUKU…

Cover depan adalah tanggal lahir.

Cover belakang adalah tanggal kematian.

Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yang kita lakukan.

Ada buku yang tebal, ada buku yang tipis.

 

Ada buku yang menarik dibaca,

ada yang sama sekali tidak menarik.

 

Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di’edit’ lagi.

Tapi hebatnya,

Seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru, dan tiada cacat

 

Sama dengan hidup kita,

Seburuk apapun kemarin, Allah SWT selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya.

Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita ke depannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkannya.

Bersyukur dan berterima kasih kepada Allah SWT untuk hari yang baru ini.

 

Kematian menjadi pelajaran bagi semua orang. Kematian adalah tutup buku kehidupan. Saat buku kehidupan telah ditutup, berarti kesempatan menulis dan menggambar telah purna. Buku akan dibuka kembali hanya untuk bukti kita telah menulis atau menggambar kehidupan kita.

Kita tidak mengerti kapan buku itu ditutup. Torehan emas, perak, atau bahkan coretan yang buruk dalam buku yang kita punya itu. Tergantung kita. Mumpung masih ada kesempatan untuk menorehkan tinta. Jangan gunakan sembarang tinta. ayo kita torehkan tulisan dan gambar terbaik dengan tinta terbaik. La hawla wala quwwata illa billah.

 

Allah A’lam bi al-Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 3,523 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *