SERI EKO-SUFISME #17: SOAL UJIAN KEHIDUPAN 1


Suwito NS

Minggu-minggu ini, mahasiswa di beberapa kampus sedang mengerjakan ujian semesteran. Mereka sibuk mempersiapkan ujian dan mengerjakannya. Kita tahu bahwa, tes ini menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar dan bagian dari perjalanan kehidupan mereka di sekolah/kampus.

Di sekolah dasar dan menengah, hasil tes ini akan dijadikan dasar bagi guru untuk naik kelas atau tetap tinggal kelas, lulus atau tidak lulus. Jika nilai ujiannya baik alias lulus, maka anak akan naik kelas. Sebaliknya, jika gagal dalam mengerjakan soal-soal ujian, mereka tidak akan naik kelas alias tinggal kelas.

Dalam hidup kita ini, mirip dengan anak-anak di sekolah. Hidup ini hakikatnya adalah sekolah. Kita dididik menuju keadaan yang ideal. Dalam proses menuju hidup yang ideal, sebagaimana juga telah dikatakan Allah bahwa diriNya adalah rabb, yang salah satu artinya adalah pendidik. Allah adalah rabb al-alamin (Allah adalah pendidik alam semesta). Dalam proses pendidikan yang dilakukan oleh Allah, manusia sebagai peserta didiknya, pada saatnya akan melaksanakan ujian. Kalau pada anak-anak sekolah, ujian dilakukan dengan mengerjakan soal-soal tes sesuai dengan jenjang dan pelajaran yang telah diajarkan oleh guru mereka, maka demikian juga manusia. Allah tidak mungkin memerikan ujian di luar kemampuan manusia yang diujiNya.

Ujian diberikan oleh Allah kepada manusia, bisa jadi bentuknya adalah kurangnya rasa aman (takut), rasa lapar (kekurangan secara ekonomi), krisis, dan seterusnya dan keadaan sebalinya seperti rasa senang, berlebih, dan kesuksesan. Ujian ini untuk mengetahui tingkat kesetiaan dan kesabaran dan tingkat syukur yang dimiliki manusia. Allah menguji para hambaNya sesuai dengan kadar jenjang dan kemampuannya. Tidak mungkin Allah memberikan ujian di luar kemampuan manusia. Allah Maha mengetahui kemampuan manusia dengan ujian yang diberikan itu.

Tujuan ujian di antaranya adalah naik kelas atau naik derajat seseorang di sisi Allah. Orang yang lulus ujian akan dinaikkan derajatnya atau kelasnya di sisi Allah. Sarananya adalah ujian. Hal ini seperti perjalanan kehidupan anak-anak sekolah yang mana dia harus melampaui ujian yang memang melelahkan agar dia naik kelas, misalkan dari kelas satu menuju kelas dua. Atau dari kelas tiga lulus naik ke kelas jenjang berikutnya.

Dalam ujian, terkadang Allah memberikan “soal-soal” yang sepertinya sangat sulit hingga manusia meresa kedodoran.Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Orang yang sedang diuji dengan bangkrut hingga tidak memiliki apa-apa lagi. Kemudian soal berikutnya, sudah bangrut, sodara-sodaranya menjauh. Soal-soal ujian yang disodorkan Allah sungguh telah membuat kehidupannya “terguncang” dengan dahsyat. Dengan soal-soal yang diberikan Allah ini, Allah dapat menilai kesetiaan, kepatuhan, dan kesabaraan yang dimiliki manusia sebagai pihak yang diuji. Allah akan menilai dengan penilai yang sangat bagus, jika soal-soal itu dihadapi dan dikerjakan sesuai dengan jalur yang ditetapkan oleh Allah.

Allah memberi apresisasi yang sangat baik jika manusia sebagai pihak yang teruji akan mampu mengerjakan soal-soal ujian tanpa harus memotong kompas, alias menyonteks atau sikap curang lainnya. Allah memberi penilaian plus ketika manusia patuh, setiap, dan tetap pada trek jalur yang diinstruksikan Allah.

Peserta ujian harus on the track pada jalur yang masih dibenarkan, baik sebagai orang yang diuji dengan kekurangan dan kelebihan. Sabar saat diuji dengan soal-soal yang menyakitkan dan syukur dengan soal-soal yang sepertinya menyenangkan.

Baik soal yang menyenangkan maupun menyakitkan, di tangan pemberi ujian (Allah) adalah berujung pada kebaikan (wa tudhillu man tasya’ wa tu’izzu man tasya’ biyadikal khair). Kebaikan untuk manusia agar naik kelas atau naik derajat. Namun, sayangnya saat uijian datang kita seringkali tidak menyadari soal itu diberikan Allah, karena Allah sangat saying kepada seluruh alam, termasuk manusia.

Di antara kelemahan manusia saat diuji dengan kekurangan ekonomi, seseorang terjatuh pada perbuatan yang dilarang oleh Allah. Dia tidak bisa bertahan pada jalur yang benar (on the track). Dengan dalih kemiskinan, seseorang melakukan perbuatan seperti mencuri, menjual diri, meminta-minta, bahkan merampas milik orang lain baik secara terang-terangan maupun terselubung.

Di antara merampas hak orang lain secara terselubung, dan ini tidak seringkali tidak kita disadari adalah seperti menggunakan jalan umum orang lain (trotoar) untuk berjualan baik secara permanen maupun temporer. Akitivitas mereka pada hakikatnya merampas hak orang lain secara terselubung. Keberadaannya mengganggu orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Allah juga memberikan ujian dengan berlimpahnya harta benda, anak-anak, dan kekayaan (material dan immateri) lainnya. Ini adalah wujud soal kehidupan yang harus dikerjakan dan diselesaikan manusia. Kalau lulus, dia akan naik kelas. Soal yang ini harus dijawab dengan terima kasih alis syukur kepada Allah. Cara penggunaan nikmat secara benar sesuai dengan instruksi penguji dan semakin banyak memunculkan kebaikan baru adalah jawaban soal ujian ini. Berfoya-foya karena banyak rizki hingga lalai akan pemberinya adalah prilaku yang tidak diharapkan dan akan menjadikan seseorang justru tertahan untuk naik derajat.

Allah a’lam bi al-shawab.

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 4,653 times

Leave a Reply to Sabar Munanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

One thought on “SERI EKO-SUFISME #17: SOAL UJIAN KEHIDUPAN