SERI EKO-SUFISME # 4: STROKE EKOLOGIS 3


Suwito NS

Belum lama ini, seorang kawan akrab saya terserang penyakit. Tiba-tiba, dia tidak bisa menelan ludahnya sendiri. Dengan demikian, dia tidak bisa minum, apalagi makan. Untuk keperluan asupan makanan ke tubuhnya, makanan harus dimasukkan dengan bantuan pompa penyedot. Pompa dibutuhkan saat dia meminum air. Makanan harus dihaluskan dan dicairkan agar bisa disedot melalui pompa.

Penyakit itu, ternyata diidentifikasi sebagai bentuk stroke yang menyerang bagian pangkal lidah. Lidah menjadi tidak berfungsi secara normal. Akibatnya, lidah yang salah satu kegunaannya untuk pencernaan, tidak berfungsi secara baik.

Sering kita jumpai di salah satu penyakit di masyarakat kita yang disebut dengan stroke. Dampak penyakit ini di antaranya, lumpuh, organ mati sebelah, atau disfungsi organ. Penyakit ini menempati peringkat lima besar di antara penyakit manusia modern saat ini.

Menurut dokter, penyakit ini bermula dari pola konsumsi yang kurang sehat dan tidak seimbang. Kandungan lemak dalam darah mempersempit aliran darah, sehingga menyempit alirannya. Jantung memompa darah dengan aliran yang menyempit, bahkan tersumbat alirannya. Tekanan darah menjadi semakin meningkat. Pada saat tekanan tinggi, sementara alirannya menyempit dan bahkan tersumbat, maka yang terjadi adalah pecahnya pembuluh darah.

Inilah wujud sirkulasi mikrokosmis. Dalam diri kita ada sungai-sungai yang mengalir. Sungai-sungai dalam diri kita sering disebut dengan salurah darah atau pembuluh darah. Air sungainya adalah darah. Darah harus selalu mengalir. Saat alirannya tersumbat, maka yang terjadi adalah membludak dan menjadi banjir. Banjir bah dapat menggenangi apa saja yang ada di sekitarnya. Saraf-saraf yang seharusnya berfungsi baik menjadi disfungsi (gagal fungsi). Akibatnya dari terganggunya saraf tersebut, maka terjadi disfungsi organ. Disfungsinya organ menyebabkan lumpuh, mati rasa, dan sebagainya.

Kolesterol dan lemak dalam darah adalah sampah sisa metabolisme kita. Dalam berlingkungan, sampah adalah sisa yang merupakan limbah kehidupan kita. Sampah-sampah ini dapat mengotori saluran-saluran air baik sungai, selokan, parit, dan got di sekitar kita. Manakala saluran ini penuh dengan sampah, maka lambat atau cepat akan terjadi stroke ekologis di lingkungan kita.

Kalau penyakit stroke pada diri manusia adalah membludaknya darah karena pecahnya saluran darah, maka stroke ekologis adalah membludaknya air dari saluran karena salurannya air penuh dengan sampah. Air akan menggenangi daerah yang seharusnya tidak tergenang. Jika demikian, maka yang terjadi adalah terganggunya ekosistem dan sosial.

Infrastruktrur tergenang air. Jalan, pasar, tempat ibadah dan tempat-tempat layanan publik yang lain terendam air. Dengan demikian, banjir menjadikan infrastruktur menjadi disfungsi. Banjir menyebabkan disfungsi sosial.

Untuk mencegah stroke ekologis, kita dapat melakukan kegiatan yang mengarah pada pola manajemen limbah yang memperhatikan hak-hak lingkungan. Air memiliki hak untuk mengalir. Jalan aliran mereka harus kita berikan agar dia berjalan lancar. Keserakahan manusia dengan cara merebut hak air dan mengotorinya dengan sampah dan limbah menyebabkan banjir,  stroke ekologis.

Allah A’lam bi al-Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 4,239 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 4: STROKE EKOLOGIS

  • Sunhaji

    Setuju sekali ini pak. Kesadaran kita untyk membuang sampah pd temptnya masih sangat kurang kita membayangkan jika kesadaran tertib buang sampah masih rendah suatu saat nanti musibah akan terjadi. Ingat annadhofatu minal iman jika hadits ini kita pake kita resapi maka kita harus menjaga dan mengamalkannya agar sadar dg cara buang sampah.mari kita mulai dari diri kita keluarga kita agar setia dg cara membuang sampah
    Semoga.

  • F Adhim

    Membaca serial Eko-Sufisme ini, saya teringat pemikiran tokoh theosofi klasik “Syekh Akbar” Muhammad Ibn Ali ibn Arabi ibn al-Tha’i al-Andalusi (560-638 H) dalam karya awalnya “Kitab Tadbirat al-Ilahiyyat fi Islah al-mamlakah al-Insaniyyah” yang ditulis atas permintaan Syekh Muhammad al-Mururi (al-Maururi) sebagai respos atas buku yang ditulis oleh Aristoteles “Sirr al-Asrar” Rahasia segala rahasia, yang berisikan tentang petunjuk atau cara memerintah dunia. Sedangkan kitab Tadbirat, secara khusus membahas tentang pemerintahan kerajaan manusia, memerintah diri sendiri, sebagai sumber keselamatan yang sesunguhnya.
    Manusia merupakan mikrokosmos dari makrokosmos (semesta). Keseluruhan alam semesta berada di dalam diri manusia, sebagaimana firman Allah:

    Di bumi itu terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memikirkan? (Q.S. al-Dzariat:20-21) dan

    Kami memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disehenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar… (Q.S. Fushilat: 53).

    Bagi orang yang cermat, ada banyak hal dalam semesta yang saling terkait dan keserupaan antara makrokosmos dan mikrokosmos (semesta dan manusia).
    Misalnya, rambut serupa dengan hutan. Cairan tubuh-aliran darah serupa dengan aliran sungai, jika aliran darah tersumbat maka terjadilah stroke, atau banjir dalam kasus aliran sungai#Stroke Ekologis.

    Terimakasih pencerahannya Pak. Wit, karena dengan uraian” njenengan tentang Eko-Sufisme, memberikan saya pemahaman lebih utuh tentang sufisme yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan “kesalehan individual” tapi berkembang menjadi “kesalehan sosial & ekosiatem”.
    Ditunggu serial” selanjutnya Pak…
    Salam