SERI EKO-SUFISME # 2: POHON MENANGIS 5


Suwito NS

Suatu hari, salah seorang shahabat Nabi usul akan membuatkan mimbar untuk Nabi. Selama ini, dalam menyampaikan khutbahnya, Nabi Muhammad bersandar pada sebuah pohon kurma. Karena dengan dalih jamaah semakin banyak, maka shahabat tersebut usul akan membuatkan mimbar.

Nabi menyetujui usul tersebut, dan mimbar pun jadi. Nabi kemudian menyampaikan khutbah-khutbahnya di atas mimbar. Pada saat yang bersamaan, pohon kurma yang biasa dijadikan sandaran Nabi dalam berkhutbah mendadak “pensiun”. Pada saat itu juga Nabi dan para shahabat mendengar rintihan dan tangisan pohon kurma. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim mengatakan, “fa hann al-jid’u (pohon kurma tersebut sedih dan menangis), lalu Rasulullah turun mimbar dan memeluknya. Nabi mengatakan bahwa “seandainya aku tidak memeluknya, dia akan menangis sampai hari kiamat”.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam Shahih al-Bukhari pada hadits 3583, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ كَثِيرٍ أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ – وَاسْمُهُ عُمَرُ بْنُ الْعَلاَءِ أَخُو أَبِى عَمْرِو بْنِ الْعَلاَءِ – قَالَ سَمِعْتُ نَافِعًا عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ تَحَوَّلَ إِلَيْهِ ، فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَمَسَحَ يَدَهُ عَلَيْهِ

Artinya: “Menceritakan kepada kami Muhammad al-Mutsanna, Menceritakan kepada kami Yahya bin Katsir Abu Ghassan, Muhammad ibn Hafs, yang namanya Umar ibn Ala’, Saudara dari Abi Amr ibn Ala’. Dia berkata: Saya mendengar dari Nafi’ ibn Umar RA, bahwa Nabi SAW berkutbah (dengan bersandar) pada pohon kurma, namun, saat (telah ada) mimbar dia pindah padanya (mimbar), maka menagislah pohon kurma itu, Rasulullah mendekatinya dan mengusap untuk menenangkankan tangannya padanya”.

Hadits tersebut juga ada pada Shahih Bukhari nomor 1313, pada Juz 3, juga terdapat pada Sunan Ibn Majah, pada hadis nomor 1480 Juz 4, halaman 409

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلاَّدٍ الْبَاهِلِىُّ حَدَّثَنَا بَهْزُ بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِى عَمَّارٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ. وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ ذَهَبَ إِلَى الْمِنْبَرِ فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَاحْتَضَنَهُ فَسَكَنَ. فَقَالَ « لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ».

Artinya: Abu Bakar ibn Khallad menceritakan kepada kami, Bahz ibn Asad menceritakan kepada kami, Hammad ibn Salamah dari Abi Ammar dari Ibn Abbas, dari Tsabit dari Anas, bahwa Rasulullah SAW sering berkutbah (dengan bersandar) pada pohon kurma, ketika beliau menggunakan mimbar dan saat menuju mimbar, maka menangislah pohon kurma itu. Belia kemudian mendatanginya dan memeluknya, maka pohon tersebut menjadi tenang. Dia (Rasulullah) berkata: Sekiranya aku tidak memeluknya, maka dia akan menangis (sedih, merintih) sampai hari kiamat”.

Hadits tersebut juga dalam Sunan al-Darimy, hadits nomor 1614 Juz 4, hadits 2664, Juz 1, dan di beberapa kita lainnya.

Inilah kesedihan semesta. Kesedihan alam semesta. Jika alam semesta ini disempitkan, bisa jadi, yang sedih adalah lingkungan di sekitar kita. Bisa jadi ibu pertiwi kita yang sedang sedih dan menangis. Tanah yang kita injak ini menangis karena kita perlalukan dengan semena-mena. Kita pijak tanah dan bumi kita ini dengan kemaksiatan.

Pohon kurma sedih setelah “dipensiunkan” oleh Nabi. Padahal Rasulullah tidak menyia-nyiakannya. Rasulullah hanya tidak menggunakannya lagi. Rasulullah tidak menyakitinya. Begitu saja membuat pohon nelangsa. Dia (pohon kurma) akan senang saat difungsikan oleh Kekasih Allah (para hamba Allah) untuk sarana mendekatkan diri padaNya.

Seringkali kita hanya melihat fenomena di sekitar kita hanya bersifat material-formal belaka. Padahal, Islam mengajari kita di samping material-formal padahal masih adalah lanjutannya sampai pada substansial (sisi dalam) yang real metafisik. Pelajaran yang bisa kita petik adalah:

  1. Tumbuhan dan alam semesta lain juga makhluk yang selalu menjadi saksi manusia.
  2. Tumbuhan juga ingin dilibatkan oleh manusia (sebagai khalifatullah) untuk mendekat kepada Allah.
  3. Tumbuhan juga sedih jika di sekitarnya terjadi banyak kemaksiatan.

 

Allah A’lam di Shawab

Berbagi Ilmu:
This article has been viewed 3,456 times

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 thoughts on “SERI EKO-SUFISME # 2: POHON MENANGIS